mentari kembali tenggelam di
balik peraduan,
Sejenak terlelap bersama angkuh dan
congkak biasnya.
Malam
kini leluasa mengambil alih
Dengan angkuh mengelebatkan jubah Kebesarannya
yang hitam pekat itu.
Rembulan pucat pasi seperti mayat itu, tampak jenuh menyaksikann sepenggal kisah Yang tengah
mereka rajut di hamparan semesta ini,
yyaah... seperti
halnya aku.
Dan di tempatku berpijak sa’at ini, kembali
tersurat ba’it-ba’it tentang kehidupan.
Ungkapan tentang mimpi-mimpi yang tampaknya
sampai kapanpun hanya akan
menjadi
sebuah mimpi.
Tentang
kisah – kisah yang terkontaminasi ke’indahan, kebahagia’an, ketulusan,
Kesedihan,
tawa, harapan, keputus asa’an dan segala tetek bengek kehidupan,
hingga mampu tercipta perpaduan rasa yang berkecamuk dan tidak jarang bergolak hebat.
Pada setiap jengkal hari yang baru terbangun
, terlahir pula harapan-harapan baru.
Namun, sepertinya raut wajah hari yang tak pernah serupa selalu
Mempertontonkan air muka yang tak pernah jauh berbeda.
Meleburkan segenap angan dan
membentangkan garis keraguan.
kok gak ada judulnya dek
BalasHapus