Selasa, 20 Mei 2014

Di Sore yang Belum Jingga



Semarang, selasa, 20-05-2014        
                                                 
            Sore yang belum memancar jingga, Hanin duduk di tepian pantai berlangitkan daun-daun rindang, riuh angin mengoyak rambut tipisnya menjadi tak beraraturan, ia menyipitkan mata, memandang tak berujung ke laut lepas.
            Sesekali ia memalingkan pandangan kepada laki-laki yang sedari tadi duduk disampingnya, laki-laki yang belum lama menjadi kekasihnya, gemuruh ombak yang biasanya terdengar parau kini menjadi melodi indah nan sahaja, agaknya kegembiraan memancar dari kedua bola mata Hanin yang tampak menyala kala itu.
            Tak ada percakapan yang cukup serius di antara mereka, hanya celoteh-celoteh kecil yang membuahkan tawa, menumbuhkan kembali keriangan di benak Hanin yang pernah begitu terluka. dikepalanya tersimpan benyak pertanyaan yang sebetulnya ingin ia lontarkan kepada kekasihnya itu, namun ia membiarkannya menguap terbawa angin yang meliuk, ia tahu bahwa kekasihnya akan memberinya jawaban yang membuatnya tersenyum lebar, ya, tentu saja. yang ia takutkan adalah jika nanti ia menemukan jawaban yang berbeda dari kedua bola mata  laki-laki itu.
Pekikan burung yang berarak pulang mengantarkan matahari menuruni singgasana agungnya, cahaya kemerahan memancar dari sela-sela awan mendung yang berkerumun di atas lautan. Hanin dan kekasihnya beranjak dari tempat itu, meninggalkan pertanyaan yang masih mengganjal di benak Hanin, pertanyaan yang sesungguhnya begitu sederhana “apakah kau benar mencintaiku ?”