Selasa, 30 Juli 2013

"Dicumbu Hampa



.....Garis khayalku hampaa.....
Entah berapa lama waktu  kulewatkan  hanya untuk sekedar beradu pandang dengan hamparan Putih bergaris tepi warna hitam yang tak begitu pekat ini, namun tak setitik noda hitampun mampu ku Tuang.
    Memory berjejal, namun tetap membisu tak bergeming. Gelisah mencumbuku malam ini.
Menggiringku pada suatu dimensi  khayal tak berpenghuni.
 .......Sunyii.......
    Malam merangkak tertatih menuju pagi,  sepertinya waktu tak lagi sabar  barang sejenak untuk  tetap tinggal.
Sesekali  kuedarkan  pandangan pada sosok – sosok  jasad yang tergolek itu,
arkh....  mereka tengah asyik berkutat dengan alam tak nyata mereka.....
biar sajalah... mungkin itu satu – satunya kesempatan mereka untuk mendapatkan sesuatu yang takkan pernah mereka  dapatkan bila saja  kelopak mata mereka kembali ternganga.
 ....Kembali menilik pada ruang khayalku.....
 ....masih saja hampa....
    Daannnn.......BAJINGAN...!!!!!
Telepon rumah itu berdering dan barusaja mengguncangku, 
 dadaku berdesir hebat sebelum akhirnya mereda.., siapa orang bodoh yang menelfon tengah malam begini, bahkan tengah malampun sepertinya telah lewat beberapa waktu lalu.
    Lonceng jam berdentum keras, terdengar sangat keras pada jam – jam seperti sa’at ini.
.....jam 02 pagi......
    Selarut ini, ba’it – ba’it imajinasi belum juga sudi menjamahku.
“Hhhaaaakkhhh..... “
aku menguap,
kedua belah kelopak mataku tiba – tiba terasa semakin berat saja,
    Tersadar bahwa sebaris mimpi tengah menungguku.  memanggilku bercumbu di peraduannya.
akhirnya terlelap bersama kisah yang sa’at ini masih ku tebak-tebak.
   Dan seperti halnya mereka, di dimensi inilah aku mungkin bisa memiliki segala hal yang bahkan aku tak berani menginginkannya bila aku terbangun nantinya.
    “ .......night..........”

Selasa, 23 Juli 2013

"Tanpa JuduL



mentari kembali tenggelam di balik peraduan,
Sejenak terlelap bersama angkuh dan congkak  biasnya.
Malam kini leluasa mengambil alih
Dengan angkuh mengelebatkan jubah Kebesarannya yang hitam pekat itu.
Rembulan pucat pasi seperti mayat itu,  tampak jenuh menyaksikann sepenggal kisah Yang tengah mereka rajut di hamparan semesta ini, 
yyaah... seperti halnya aku.
Dan di tempatku berpijak sa’at ini, kembali tersurat ba’it-ba’it tentang kehidupan.
Ungkapan tentang mimpi-mimpi yang tampaknya sampai kapanpun  hanya akan
menjadi  sebuah mimpi.
Tentang  kisah – kisah yang terkontaminasi ke’indahan, kebahagia’an, ketulusan,
Kesedihan, tawa, harapan, keputus asa’an dan segala tetek bengek kehidupan,
hingga mampu tercipta perpaduan  rasa yang berkecamuk dan tidak jarang bergolak hebat.

Pada setiap jengkal hari yang baru terbangun , terlahir pula harapan-harapan baru.
Namun, sepertinya raut wajah hari  yang tak pernah serupa selalu  
Mempertontonkan  air muka yang tak pernah jauh  berbeda.
Meleburkan segenap angan dan membentangkan  garis keraguan.